AMD, Arm, dan Qualcomm Serentak Berinvestasi di Wayve
Tiga raksasa industri chip — AMD, Arm, dan Qualcomm — secara serentak mengucurkan dana $60 juta ke startup teknologi mengemudi otonom asal Inggris, Wayve. Investasi ini bukan sekadar tambahan modal, melainkan perpanjangan dari putaran pendanaan Seri D senilai $1,2 miliar yang sudah menggemparkan pasar sebelumnya. Kabar ini diumumkan pada 15 April 2026 dan langsung menarik perhatian industri otomotif global.
Wayve bukan nama asing di dunia autonomous driving. Startup yang didirikan Alex Kendall ini mengembangkan sistem mengemudi otonom yang tidak bergantung pada peta berdefinisi tinggi (HD map) seperti kebanyakan kompetitor. Pendekatan mereka justru mengandalkan jaringan saraf end-to-end yang belajar langsung dari data sensor kendaraan untuk mengajarikan mobil cara berkendara.
Kenapa Chipmaker Berebut Masuk ke Wayve?
Keputusan AMD, Arm, dan Qualcomm bukan sekadar ikut-ikutan tren. Wayve membangun sistem self-driving yang dirancang agnostik terhadap platform komputasi — artinya software mereka bisa berjalan di chip apa pun yang dimiliki mitra OEM. Dalam dunia otomotif yang terfragmentasi, fleksibilitas ini adalah aset langka.
"Untuk embodied AI yang bisa diskalakan, produsen mobil membutuhkan pilihan desain dan fleksibilitas rantai pasokan," ujar Alex Kendall, CEO dan co-founder Wayve. "Memperluas hubungan dengan perusahaan silicon terkemuka membantu mewujudkan produksi global."
Investasi ini juga mencerminkan strategi para chipmaker untuk mengamankan posisi mereka di ekosistem kendaraan otonom masa depan. Qualcomm melalui divisi venturanya, AMD dengan solusi komputasi adaptifnya, dan Arm dengan arsitektur prosesor yang mendominasi perangkat mobile — ketiganya ingin memastikan teknologi mereka menjadi tulang punggung AI Driver Wayve.
Dua Produk Utama Wayve yang Menggoda Pasar
Wayve menawarkan dua lini produk yang sudah mulai dipasarkan ke pabrikan mobil dan perusahaan teknologi. Pertama adalah sistem "eyes on" — assisted driving yang masih mengharuskan pengemudi tetap waspada dan siap mengambil alih kendali. Kedua adalah sistem "eyes off" — mengemudi penuh otomatis yang bisa diandalkan di lingkungan tertentu, baik untuk robotaxi maupun kendaraan konsumen.
Nissan sudah mengonfirmasi akan mengintegrasikan teknologi Wayve ke dalam sistem Advanced Driver-Assistance System (ADAS) mulai tahun 2027. Mercedes-Benz dan Stellantis juga tercatat sebagai pelanggan yang akan menggunakan teknologi serupa pada model-model mendatang. Artinya, apa yang dibangun Wayve bukan sekadar prototipe di lab, melainkan teknologi yang akan benar-benar mengaspal dalam waktu dekat.
Implikasi Menuju Era Kendaraan Otonom Tanpa Peta
Pendekatan mapless yang diusung Wayve membuka kemungkinan besar bagi ekspansi teknologi otonom. Sistem tradisional seperti milik Waymo sangat bergantung pada pemetaan laser (LiDAR) dan HD map yang mahal untuk dibuat dan diperbarui. Wayve memotong langkah ini dengan membiarkan AI belajar dari pengalaman mengemudi nyata, mirip seperti cara manusia belajar berkendara.
Jika pendekatan ini terbukti andal secara massal, biaya deployment robotaxi bisa turun drastis. Kendaraan otonom tidak lagi perlu diprogram ulang setiap kali masuk kota baru atau menghadapi kondisi jalan yang berubah. Ini adalah visi yang sama-sama didukung oleh Google Cloud TPU v8 untuk infrastruktur AI, dan Tesla AI5 yang sedang dalam tahap taped out untuk solusi chip in-house.
---
Fakta dan Angka yang Perlu Diketahui
- Pendanaan total Wayve: $1,2 miliar Seri D + $60 juta ekstensi dari chipmaker
- Investor strategis sebelumnya: Nvidia, Microsoft, Uber, Mercedes-Benz, Nissan, Stellantis
- Uber berkomitmen tambahan $300 juta jika robotaxi Wayve berhasil dideploy di London
- Nissan akan mengintegrasikan Wayve mulai tahun 2027
- Sistem Wayve bisa berjalan di berbagai platform chip tanpa ketergantungan hardware spesifik
---
Sumber utama: laporan TechCrunch